Beranjak dari properti dan tema
Beranjak dari properti dan tema
Esai yang ditulis Anantika Prihatani tentang penyelelenggaraan pementasan di Universitas PGRI Semarang yang mengusung tema “Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah”. Alur cerita yang disampaikan oleh Anantika sudah cukup menggambarkan cerita yang pernah dilihatnya akan tetapi ada beberapa hal seni yang luput dari pandangannya. Dalam pertunjukan seni kali ini yang menjadi pusat pasang mata bermuara adalah panggung. Ada beberapa hal di panggung yang kerap menjadi unsur penentu kesuksesan sebuah pementasan.
Property artistic
Para tim property mengonsep semua perlengkapan sudah berada di panggung sehingga tidak perlu lagi menutup tirai hanya untuk sekadar mengganti propertinya. Beranjak dari background warna hitam dengan potongan sterofom berbentuk awan dan potongan kertas berbentuk lingkaran penuh berwarna jingga yang menggambarkan sebuah rembulan ketika purnama. Penggambaran yang cukup sempurna untuk mendoktrin penonton bahwa latar utama pada cerita itu malam purnama yang menjadi titik temu dan pisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan. Rumah berdinding bambu dengan atap dari jerami cukup menggambarkan kehidupan masyarakat kala itu yang identik degan pedesaan. Keberadaan sendang dengan yang posisi tinggi yang tidak sama dengan panggung saya kira suatu pemikiran yang kreatif ditambah plastik panjang menggambarkan air yang menambah kesan hidup dalam sendang. Dari semua properti yang ada di panggung ketertarikan mata saya tertuju pada tangga yang ditutup kain hitam background. Sebuah pemikiran yang brilian untuk menggambarkan bidadari terbang diatas awan. Para bidadari berdiri disetiap selfing tangga diantara replika awan dan rembulan menjadi doktrin yang bagus kepada penonton bahwa bidadari itu terbang.
Properti yang sederhana terlihat pada pementasan season ke-2 “Monolog Balada Sumarah” hanya sebuah peti kayu berwarna asli kayu menjadi titik pemain dalam menyampaikan cerita. Properti tunggal ini mampu membentuk alur yang apik dalam cerita, mulai dari pembelajaran dikelas sampai Sumarah bunuh diri dapat tersampaikan. Kembali sebuah pemikiran yang bagus, penglihatan saya pemilihan sebuah peti dalam hal ini menjadi alasan keefisienan waktu. Keterbatasan waktu pertunjukan apalagi Monolog ini menjadi wakil Jawa Tengah diranah Nasional. Dunia perlombaan tentunya sangat memperhatikan detail-detail penunjang sebuah pementasan, karena semakin detail akan semakin bernilai seni sebuah pementasan.
Tema lawas yang terlaku dekat
Komunis sebuah organisasi atau partai bersimbol palu dan arit warna kuning dengan latar belakang merah. Partai yang dibentuk pada tahun 1924 yang sebelumnya bernama perserikatan komunis di Hindia. Semaun adalah ketua partai dan Darsono menjabat sebagai wakil ketua. Partai ini merupakan partai komunis pertama di Asia. Sasaran utama komunis ini adalah para buruh, mereka beranggapan bahwa tidak ada revolusi yang sukses tanpa persekutuan kelas buruh.
Pada November 1926 PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatera Barat. Bersama Alimin, Musso yang merupakan salah satu pemimpin PKI di era tersebut sedang tidak berada di Indonesia. Ia sedang melakukan pembicaraan dengan Tan Malaka yang tidak setuju dengan langkah pemberontakan tersebut. PKI terus berkembang di Indonesia bahkan menjadi pusat pemerintahan orde lama. Kejayaan PKI berakhir pada tragedi G30SPKI yang melibatkan pemuda, pelajar dan mahasiswa sebagai pelopornya.
Sudah sangat jelas bahwa pemilihan tema peka dalam drama monolog kali ini seakan flashback kejadian puluhan tahun lalu. PKI kerap meresahkan masayarakat sekitar dua tahun lalu, stiker, slogan dan seminar penolakan partai komunis ini. Aparatur Negara dan relawan yang sadar akan bahaya PKI dari sudut-sudut manapun gencar tentang penolakan. Hal ini sekaligus menjadi pembelajaran sejarah bagi mahasiswa dilingkungan Universitas PGRI Semarang. Semakin terasa apik nan selaras dipadukan dengan tema budak di Negara lain.
Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang selama ini kita kenal sebagai penyumbang pendapatan devisa Negara terasa dekat dengan sebagian masyarakat Indonesia yang menjadi tenaga kerja di luar negeri. Ketertindasan yang sering menjadi masalah yang tak kunjung teratasi di negeri ini. Negara hukum islam yang menjadi salah satu titik berat dalam pembelaan. Hukum pasung dan lain sebagainya kerap terjadi bahkan menjadi konsumsi yang wajar. Kembali pada tema monolog yang mengusung kejadian ini menggambarkan ketertindasan pembantu rumah tangga di sana. Hal ini sekaligus menyadarkan para mahasiswa untuk menjadi pahlawan. Sosok pahlawan bukan yang bersenjata lagi di era sekarang ini pahlawan adalah yang berbuat perubahan pada lingkungannya.
Dalam menampilkan pertunjukan yang memukau tema menjadi otak, untuk itu jangan disepelekan keberadaannya. Apabila tema yang usung tidak dekat dan familiar di lingkungan penonton sesempurna pertunjukan apapun tidak akan berdampak banyak. Dalam dunia pementasan hal yang terpenting adalah pesan moral yang disampaikan serta menggugah penonton untuk melakukan pesan moral yang disampaikan. Karena melalui seni kita dapat belajar apapun.
Komentar
Posting Komentar