Pementasan Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah

Pementasan Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah Selasa (16/4) Universitas PGRI Semarang menggelar pementasan drama Joko Tarub dan Monolog Balada Sumarah di auditorium gedung pusat lantai 7. Pementasanan yang menjadi ajang persiapan persiminas ini sakaligus memberi suguhan kepada mahasiswa. Universitas yang akan membawa nama baik Jawa Tengah diranah nasional ini sekaligus meminta doa supaya prestasi yang diraih pada 2010 sebagai juara 2 di tingkat nasional. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Gemma menjadi panitia penyelenggara acara tersebut. Acara diselenggarakan dalam dua sesi pertunjukan yaitu pukul 15.00 dan 19.00 WIB. Harga tiket masuk yang hanya Rp 10.000 semakin menambah sesak ruang auditorium. Dengan alasan tugas kuliah atau hanya sekadar ingin menikmati pertunjukan beberapa kalangan dari mahasiswa, dosen, dan pelajar tingkat SMA ikut menduduku karpet hijau yang disediakan. Cerita yang diunggah pada pementasan kali mengingatkan akan dongeng semenjak SD, berkisah tentang Jaka Tarub. Mungkin ini sudah menjadi tren dalam berbagai pertunjujakn dengan kembali mengunggah cerita tradisional. Hal ini menjadi ajang para seniman melestarikam wawasan budaya yang hampir lenyap dimakan perkembangan budaya yang kebarat-baratan. Cerita Jaka Tarub kali ini kemasannya sedikit berbeda sutradara menggunakan alur mundur. Alur mundur meningkatkan rasa keingintahuan penonton akan kemasan cerita selanjutnya. Setting tempat yang menggunakan kawasan danau dan rumah dari bambu cukup mewakili cerita. Penggunaan tangga dalam pementasan ini sangat membantu dalam penggambaran bahwa bidadari terbang serta penggunaan plastik dalam danau mewakili air terkesan hidup. Ada kejadian kecelakaan menurut saya, ketika salah satu bidadari jatuh dari tangga. Kejadian bidadari jatuh dari tangga menurut saya di luar skrip, akan tetapi para pemain bidadari bisa menutupi kejadian tersebut dengan tingkat kepekaannya segera menghampiri dan menolong sembari berkata “ kamu tidak apa-apa” hal ini sangat bagus penonton seolah percya bahwa kejadian itu ada dalam skrip. Tema yang diangkat sangat umum seharusnya pencitraan tokoh lebih ditekan lagi. Kembali pada tema yang diangkat tentang kejadian yang sudah secara umum diketahui oleh masyarakat yang luas perlu dikemas dengan hal yang berbeda dari cerita sebelumnya. Misalkan ingin menekankan unsur komedi dicerita harus ada kejadian yang berbeda dari pemikiran masyrakat secara umum. Hal itu akan menjadi ciri khas sutradara dalam cerita, dalam hal ini masyarkat atau penonton serasa berperan menjadi sutradara karena mereka telah mengetahui alur cerita dari pengalaman mereka. Kehadiran dua tokoh pembantu diluar cerita Tomo dan Topo memberikan beberapa manfaat dari segi penonton dan dari segi cerita. Dari segi penonton Tomo dan Topo mengisi bagai air di musim kemarau. Kehadiran Tomo dan Topo membawa tawa penonton dan pencair suasana setelah terfokus dengan tokoh Jaka Tarub yang hendak menikahi Nawang. Bahan lelucon yang diusung oleh Tomo dan Topo tentang “Pencalonan Lurah kurang kurang sesuai dengan tema yang sedang dipentaskan. Akan terasa sinkron apabila tema dan bahan lawakan yang diusung tentang pernikahan atau percintaan yang saat itu sesuai dengan kejadikan. Kelebihan dalam cerita kehadiran Tomo dan Topo menjadi penyambung cerita, sesi Tomo dan Topo seakan menjadi gerbang beberapa tahun yang akan datang. Kehadiran mereka memberi waktu untuk Nawang memasang perut tiruan guna sesi selanjutnya. Akan lebih dinamis lagi apabila tema dan bahan pembicaraan mereka menyangkut Jaka dan Nawang yang baru menikah. Tata make up dan gaya rambut bidadari yang terkesan mewah perlu diperbaiki. Penggambaran kesan bahwa kejadian itu terjadi puluhan atau bahkan ratusan tahun tidak tersampai dengan tata make up dan gaya rambut seperti itu. Cerita yang disampaikan dan dikisahkan tidak utuh ada beberapa sesi yang seakan dipotong entah karena waktu yang singkat atau memang ceritanya hanya seperti itu. Kembali dengan pengalaman sejak SD ketika guru SD mengisahkan ada sesi tentang pembuatan lesung dan itu dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat menumbuk padi menjadi beras di lesung. Lesung disini menurut saya satu hal penting yang luput dari cerita karena lesung merupakan alat yang sangat akrab dengan masyarakat zaman dulu. Apabila unsur bagian pembuatan lesung dan prosesi penumbukan padi hingga menjadi beras dimasukkan dalam cerita jaka tarub ini akan terasa kultur daerahnya. Monolog Balada Sumarah Budaya masyrakat dalam menikmati seni ada berbagai faktor yang membuat mereka tertarik akan kesenian atau pertunjukan seni diantaranya: masyarakat senang akan keramaiannya, masyarakat ingin menikmati seni, masyarakat diharuskan berpartisipasi dalam acara, atau bahkan hanya ingin menjawab rasa keingintahuan mereka akan seni pertunjukan. Seni pertunjukan yang sangat akrab dan komplek di berbagai kalangan masyarakat baik dari yang menengah ke atas atau menengah kebawah. Mereka mempunyai cara tersendiri dalam menikamti seni pertunjukan. Seni monolog merupakan hal yang cukup umum akan tetapi jarang dipertunjukkan dikalangan masyarakat menengah kebawah. Kali ini pementasan “Balada Sumarah” sangat mengisahkan kaum menengah kebawah yang syarat akan ketidakadilan dan penindasan. Kisah ini terfokus pada Sumarah, wanita yang memperoleh nilai tinggi di sekolah karena keterbatasan biaya dia tidak bisa melanjutkan pendidikan. Latar belakang sebagai anak seorang petani gula menambah lengkap penderitaaannya. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diperangi pada masa itu turut serta dalam cerita ini. Sumarah yang dikecam warga sebagai anak anggota PKI menjadi buah bibir tetangganya. Karena Sumarah sudah geram dengan buah bibir tetangganya akhirnya memutuskan menjadi TKW di Arab Saudi. Penderitaan Sumarah tidak lantas hilang ketika merantau justru itu menjadi awal penderitaan yang baru. Nilai terbaik semenjak dia sekolah dulu tidak ada artinya, yang ada hanya menjilat kaki majikannya. Tema ini cukup luas dan menarik jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini. Indonesia yang kembali diresahkan dengan hadirnya komunis dan pemasungan TKW dari berbagai sudut negeri menjadi tema yang dekat di masyarakat. Cerita ini serasa membuka sudut sisi dari segala pandangan. Ketidakadilan dari tidak terbayarnya hak Sumarah sejak satu tahun ditambah dengan kehilangan harga diri oleh majikan laki-lakinya itu serasa menghancurkan segala harapan di Arab. Masalah ini kembali dekat dengan masyarakat Indonesia yang sedang diramaikan oleh kasus pemerkosaan. Kembali diungkapkan tema ini sangat dekat dengan masyarakat sehingga dapat diterima dari berbagai sudut pandang. Media pementasan monolog kali ini menggunakan sebuah peti ukuran kurang lebih 100x50 cm ini sangat multi fungsi. Tidak butuh terlalu banyak media untuk mewakili setiap adegan monolog ini. Pemain yang sudah menjuarai tingkat Jawa Tengah ini sudah tidak perlu diragukan lagi akan keprofesionalannya. Universitas PGRI memang sangat unggul dalam segi seni pertunjukan dan pementasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beranjak dari properti dan tema

Demontrasi Tanpa Rusuh

Sejarah Bahasa Indonesia