Sejarah Bahasa Indonesia
Sejarah dan Perkembangan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia kita mengenalnya hanya sebagai mata pelajaran yang hadir sejak awal sekolah hingga perguruan tinggi, bahkan kita tidak tahu bagaimana bahasa tersebut dibentuk dan dilahirkan. Tidak heran karena mata pelajaran bahasa Indonesia tidak begitu menjelaskan asal usul bahasa tersebut dilahirkan. Kita hanya mempelajari bahasa Indonesia dari hasil karya-karyanya saja dan penggunaan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan tentu kita mengaitkan dengan bahasa orang Jakarta, padahal bahasa orang Jakarta bukan bahasa Indonesia tetapi Betawi. Bahasa yang disebut bahasa persatuan ini dikemas dalam sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di dalam KKBI hanya memuat kata dan arti kata dalam bahasa Indonesia tidak menyertakan asal asul bahasa tersebut dibentuk. Mari kita telusuri sejarah yang melahirkan bahasa persatuan kita bahasa Indonesia.
Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu di pakai sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang di gunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara.
Perkembangan dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai peninggalan-peninggalan misalnya:
• Tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380
• Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683.
• Prasasti Talang Tuo, di Palembang pada Tahun 684.
• Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada Tahun 686.
• Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.
(sumber: http://shareforgoodpeople.blogspot.co.id 3 Desember 2015)
Meurut informasi diatas Bahasa Indonesia telah digunakan oleh orang Indonesia sebelum tahun 600-an oleh masyarakat Melayu namun penggunaannya belum sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia seperti sekarang ini. Bahasa Indonesia yang dikembangkan dari bahasa Melayu ini dengan alasan bahasa Melayu bersifat umum tidak ada tingkatannya seperti bahasa Jawa. Bahasa Jawa membedakan antara bahasa Jawa kasar dan bahasa Jawa halus sehingga menyulitkan suku lain untuk memahaminya. Pengesahan bahasa Indonesia secara resmi dan dideklamasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 melalui upacara sumpah pemuda di Batavia (Jakarta). Sumpah pemuda poin 3 yang bendeklamasikan bahasa Indonesia “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
Bahasa yang lahir dan berkembang ini mempunyai berbagai perubahan dari mulai tulisan hingga bahasa daerah atau pun bahasa asing yang diserap kedalam bahasa Indonesia. Perubahan dan penambahan bahasa ini dapat dilihat dari semakin tebalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hal itu mendasari bahwa bahasa Indonesia bersifat objektif tidak menutup perubahan yang dihasilkan dari penyerapan bahasa lain. Selain itu keberagaman bahasa yang sudah diserap menjadi bahasa Indonesia adalah bahasa anak muda, seperti “loe” dan “gue”. Secara kaidah kata tersebut sudah menjadi kata bahasa Indonesia karena sudah tercantum di dalam kamus besar bahasa Indonesia. Semua serapan tersebut sudah dikaji oleh balai pustaka dengan pertimbangan yang matang.
Penyempurnaan ejaaan dalam bahasa Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan, ejaan yang pertama diberi nama Van Ophuijsen. Ejaan ini merupakan ejaan melayu yang dituliskan ke dalam bahasa latin, dan disusun oleh Charles Van Ophuijsen serta Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan sebagai pembantunya dalam penyusunan ejaan ini pada tahun 1896. Ciri khas Ejaan ini adalah :
Penggunakan huruf ĩ sebagai pembeda huruf i yang digunakan untuk akhiran serta pengganti huruf y.
Penggunaan huruf j sebagai pengganti huruf y.
Penggunaan huruf oe sebagai pengganti huruf u.
Penggunaan diakritik seperti petik satu untuk mengganti huruf k, seperti : ma’moer
Ejaan pengganti Ophuijsen adalah ejaan republik yang dikenal juga sebagai ejaan soewandi. Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 dan memiliki cirri sebagai berikut:
Huruf oe tidak lagi digunakan dan mulai menggunakan huruf u.
Penggunaan petik satu dan bunyi sentak tidak lagi digunakan diganti dengan huruf k, seperti: tidak, sentak, tak, dan lainya.
Penggunaan kata 2 untuk kata yang diulang, seperti: sama2, makan2, dan lain-lain.
Tidak adanya perbedaaan antara awalan di dan di sebagai kata depan.
Ejaan yang disempurnakan (EYD) diresmikan pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden dan digunakan sebagai dasar penulisan yang berlaku hingga saat ini. Dalam hal ejaan ini ada beberapa perubahan, seperti:
Penggunaan huruf c sebagai pengganti huruf tj misalnya pada kata: tjoncoh.
Penggunaan huruf j sebagai pengganti huruf dj.
Penggantian huruf ch menjadi kh.
Pengubahan penulisan nj menjadi ny.
Perubahan penulisan sj menjadi sy.
Perubahan j menjadi y.
(sumber: http://sejarah bahasa.blogspot.com)
Berdasarkan data diatas perkembangan penulisan bahasa Indonesia terjadi beberapa tahap, hal itu juga berpengaruh dalam pendidikan dan masyarakat. Pengaruh penulisan yang beragam itu terlihat pada anak-anak yang lahir tahun 2000-an yang membaca buku atau tulisan yang diterbitkan sebelum terbentuknya EYD. Hal ini dapat dilihat dari cara anak ini membaca dan pemahaman mereka terhadao tulisan zaman dahuku. Perlu adanya sosialisasi pembacaan di lingkungan pendidikan maupun masyarakat supaya tidak ada yang berbeda persepsi.
Penggunaan bahasa Indonesia sangat luas baik di lingkungan pendidikan, kesehatan, politik, dan pemerintahan. Namun seiring perkembangan waktu ada perkembangan pula penggunaan bahasa di lingkungan masyarakat khususnya bahasa yang tidak sesuai kaidah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Alasan manusia menggunakan bahasa yang tidak sesuai kaidah adalah karena tinggat pengetahuan yang masih kurang dan tidak adanya fasilitator. Adanya orang yang memahami kaidah bahasa yang baik dan benar sangat perlu dalam lingkungan masyarakat. Selain fasilitator tingkat kesadaran masyarakat juga diperlukan dalam hal ini, karena jika tidak ada keterbukaan dan niat untuk belajar dan membenarkan tuturan yang salah semua akan sia-sia.
Bahasa menjadi tolok ukur kecerdasan seseorang, apabila seseorang pandai berbahasa maka tidak diragukan pula kecerdasan dalam berfikirnya. Daya kembang pola fikir masyarakat bisa terlihat kenyataannya dalam penggunaan berbicara di acara-acara penting dalam masyarakat dan lingkungannya. Contoh kegiatan yang dapat mencerminkan perkembangan dan tingkat kepahaman masyarakat di acara formal di lingkungan masyarakat sekitar, seperti: pidato acara peringatan hari kemerdekaan, pidato sambutan oleh kepala desa, dan lain sebagainya.
Salah satu cara untuk membiasakan masyarakat menggunakan bahasa yang baik dan benar adalah dengan cara membiasakan dalam komunikasi sehari-hari. Kebiasaan masyarakat untuk membiasakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar karena penggunaan bahasa dalam interaksi biasanya menggunakan bahasa daerah masing-masing. Apabila menggunakan bahasa Indonesia penggunaannya bercampur antara bahasa daerah dan bahasa slank (bahasa yang diciptakan sendiri oleh manusia yang belum tentu dipahami oleh mitra bicaranya). Kejadian seperti ini sangat tidak baik jika berlangsung terus menerus perlu adanya kegiatan pembenaran supaya kedepannya komunikasi dalam masyarakat tidak ada kesalahan secara terus menerus.
Penanaman karakter sejak anak usia dini sangat perlu karena tingkat pemahaman mereka sangat kuat dan pembiasaan sejak dini juga sangat berpengaruh. Penerapan dalam setiap kegiatan anak-anak baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga merupakan salah satu cara yang paling efektig dalam meningkatkan budaya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Peran serta orang tua juga sangat penting dalam hal ini untuk itu orang tua harus terlebih dahulu mempelajari dan memahami bahasa yang baik dan benar. Pensosialisasian berbahasa sangat diperlukan supaya kader manusia bangsa meningkat karena bahasa dan budaya adalah salah satu identitas bangsa yang perlu ditonjolkan.
Eksistensi bahasa Indonesia keberadaannya mulai tergeserkan oleh bahasa lain, khususnya bahasa asing. Banyak anak muda yang merasa lebih percaya diri apabila bisa menggunakan bahasa asing dalam konteks berbicara sehari-hari. Alasan mengapa anak muda mempunyai pola fikir seperti itu karena lingkungan teman-teman yang membawa seperti itu. Masyarakat tidak menyadari perubahan-perubahan kecil yang selanjutnya akan berdampak tidak baik bagi kemajuan bangsa. Perubahan ini karenalingkungan anak muda yang mayoritas seperti itu. Dampak keterpurukan bahasa akan dirasakan akibatnya ole generasi yang akan datang, mereka mendengar dan berbicara bahasa yang seharusnya tidak dilafalkan. Konsep bahasa yang salah akan mendarah daging pada anak-anak sehingga untuk pembenarannya sulit. Hal sepertiin sangat disayangkan karena masa muda mereka digunakan untuk belajar ilmu dan bahasa yang tidak benar.
Selain punya dampak negatif perkembangan bahasa juga mempunyai dampak positif. Dampak positif dari perkembangan bahasa adalah keaneragaman yang menambah banyaknya bahasa Indonesia membuat semakin terangkatnya bahasa yang menjadi identitas orang Indonesia ini. Keberagaman bahasa ini semakin membuat bertambahnya pengetahuan bagi ahli bahasa dan ornag yang sedang belajar bahasa. Karena semua yang dihasilakan oleh alat ucap manusia yang mempunyai makna adalah sebuah bahasa maka tidak menutup kemungkinan dari generasi ke generasi semakin berfariasinya bahasa Indonesia.
Sebagai kaum muda yang sedang belajar bahasa Indonesia dan sedang menempuh di program studi pendidikan yang nantinya akan menjadi seorang guru. Selayaknya seorang guru bahasa Indonesia yang harus dilakukan adalah menjadi contoh yang benar bagi peserta didiknya sebagai penutur yang baik. Menjadi seorang penutur yang baik tidak mudah karena kita harus menjadi pembicara yang baik terlebih dahulu supaya peserta didik yang nantinya akan mencontoh perilaku seorang guru kita harus membiasakan menjadi pembicara yang baik terlebih dahulu. Pelaku pembicara yang baik harus mengikuti perkembangan perubahan bahasa yang terjadi. Karena jika seorang pendidik tidak mengetahui perkembangan yang terjadi maka tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Karena pembedaaan yang benar dan yang salah sangat penting dalam pembelajaran berbahasa.
Peningakatan kemampuan melalui program membaca ikut mempunyai andil dalam pembelajaran terutama membaca koran maupun informasi yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apabila seorang pelajar bahasa menemukan kata-kata yang sulit dan tidak mengetahui maknanya maka pelajar akan mencoba mencari tahu dan akan menambah ilmu baru. Selain kemampuan membaca ada kemampuan lain yang ikut berperan yaitu kemampuan mendengar. Tentu saja yang didengar adalah informasi atau acara yang penyampaiannya menggunakan bahasa yang baik dan benar. Boleh saja para pelajar bahasa membaca atau mendengarkan bahasa gaul dan bahasa slank asalkan ada pembimbing yang mengarahkan. Pengarah pun sebelumnya harus paham dengan yang disajikan.
Peningkatan kemampuan berbahasa baik lisan maupun tulis dapat dipelajari dan diterapkan dalam waktu kapanpun. Bahasa akan membawa kita kemana saja asalkan kita menguasai bahasa. Pepatah mengatakan “Kuasai bahasa jika kamu ingin menguasai dunia”. Kuasai bahasamu sendiri jika kamu tidak ingin dikuasai bangsa lain. Pastikan generasimu belajar bahasa Indonesia supaya tidak jadi objek bahasa asing.
Komentar
Posting Komentar