surat untuk pak NAKA

Surat Untuk Pak Naka Selamat malam Pak Naka, apa kabar? Bagaimana pengalaman di Jakarta? Senang bukan dapat bertemu dengan Mas Pur pemain Tukang Ojek Pengkolan? Pak Naka tentu ingin menceritakan semua, tapi nanti saja pak saat perkuliahan di kelas supaya waktu kuliah tersita untuk cerita. Tapi kalau Pak Naka ingin menggunakan jam perkuliahan penuh untuk bercerita tentu telinga kami siap untuk mendengarkannya. Pak Naka ketemu Presiden ? Sempat main ke monas atau mungkin hanya sempat beribadah di masjid Istiqlal? Ah ceritanya nanti saja saat di kelas. Sebelum saya melanjutkan surat ini saya minta maaf apabila penulisan surat ini tidak sesuai Tata Bahasa Baku atau mungkin pemilihan diksinya tidak tercantum di KBBI. Jika Pak Naka berkenan, tapi kalau tidak baca surat ini ketika hari raya Idul Fitri setelah sholat id. Pak Naka tentu tahu pahala orang memaafkan sangatlah besar, untuk itu pasti dimaafkan. Terima kasih untuk itu. Kalau nggak salah salah satu isi surat kemarin Pak Naka meminta maaf juga, Pak Naka jangan panik sudah dimaafkan bahkan sebelum surat itu sampai ke kami. Kata-kata saya basi ya Pak? Soalnya lupa diangetin. Pak Naka tidak mau mengetahui kondisi saya ketika menulis surat ini? Ya, beginilah. Ketika malam minggu di kampung halaman, banyak suara kodok maklum Pak rumah saya Kota tapi sayangnya tidak ada Walikota jadi kalau mau nyalonin masih banyak kesempatan. Yang paling penting saya menulisnya sambil mendengarkan lagu Virgoun “ Surat Cinta Untuk Starla”. Pak Naka tentu tahu bagaimana isinya, dan isi surat ini tidak ada sangkut pautnya. Bagaimana jika nanti Pak Naka nyanyi di kelas? Itu jika Pak Naka berkenan, jika tidak kami mahasiswa bisa apa? Yang diupload di youtube bagus lho Pak. Menurut pengamatan saya, isi surat pak naka yang dikirim untuk kami hanya satu tentang berapa banyak buku dan koran yang pernah dibaca. Tentu tidak sebanyak yang Pak Naka baca. Kalau saya baca buku mungkin karena tuntutan tugas kuliah atau mungkin sedang mlipir di toko buku. Buku yang saya beli belum kunjung tamat halamannya. Sebenarnya banyak yang saya baca tapi sedikit yang dapat terselesaikan. Entah kenapa alasannya mungkin Pak Naka bisa membantu menjawab atau mungkin mau membantu menyelesaikannya? Bercanda Pak. Keterbatasan uang mahasiswa membuat tidak banyak koleksi buku yang dimiliki tentu Bapak mengetahui hal itu. Pak Naka bosen mendengarkan alasan itu mungkin, tapi ini nyatanya. Ketergantungan mahasiswa terhadap indomie memang menjadi alternatif jika dosen mewajibkan mahasiswa membeli buku. Tidak ada yang salah sebenarnya kerena memang kebutuhan untuk mahasiswa. Sebenarnya keinginan untuk menambah ilmu dari buku menjadi tujuan utama saya pribadi pak, tetapi minat baca yang kurang masih menjadi masalah lawas yang mengakar. Keinginan mahasiswa untuk cerdas, berpenghasilan di media masa, dan lulus tepat waktu memang bukan hanya cita-cita individu saja. Cita-cita yang umumlah tapi proses untuk menujunya yang sulit. Bahwasannya mereka dituntut sempurna dalam hal apapun itulah polisi tidur penghambat jalan kami. Bagaimana Pak kalau seperti ini. Menumbhkan minat baca dari hati dan menjalani segala proses diatas dari hati yang belum saya temukan saat ini. Sebenarnya ada atau tidak solusinya? Meninggalkan minat baca, tugas Pak Naka yang hampir setiap minggu ada ini membuat saya mulau menyukai menulis, walaupun asal-asalan. Bukan ingin mengambil simpati ya Pak. Beberapa tugas mengamati lalu menuliskan dalam bentuk esai, disetiap saya mengikuti kegiatan selalu terbayang esai yang akan saya tuliskan baik yang memang diwajibkan atau yang lainnya. Entah ini yang dinamakan mulai menyukai menulis atau tidak, saya juga tidah paham betul akan hal itu. Jumat (14/10) pertempuran lima hari di Semarang yang berpusat di Tugu Muda menjadi salah satu yang terfikirkan. Saya ada dibarisan mahasiswa Diponegoro diapit mahasiswa AMNI dan Stikes berada di bagian timur Tugu Muda mengikuti segala prosesi dari awal hingga akhir. Tidak hanya kami dari jajaran mahasiswa yang mengisi jalan melingkar yang mengitari monument bambu. Sudut kiri ditempati gubernur dan tamu undangan, sudut berlawanan ditempati siswa SMA, sudut kanan dari TNI,Polri, dan sejenisnya. Itulah sedikit pengalaman saya yang paling saya kagumi ribuan masyarakat yang terdapat di sana antusiasnya cukup besar. Pertanyaan inti saya bagaimana seorang penulis hebat tapi dia bukan pembaca yang baik? Mungkin atau tidak ya? Begitulah cerita lokal saya pak, saya tunggu cerita Bapak di kelas. Pak Naka kenal Ahok bukan? Anis Baswedan? Atau Agus Yuhoyono? Pak Naka kemarin menyambangi Jakarta kan? Sempat tidak untuk mengikuti kampanye salah seorang dari mereka? Atau mungkin hanya melewkan begitu saja? Semoga jika memang Pak Naka sempat untuk bergabung bersama mereka Bapak tidak lupa akan tujuan awal untuk memenuhi undangan dari badan bahasa. Oh ya, bagaimana perjalanan pesawat dari stasiun poncol kemarin, saya tidak banyak berfikir tentang pernyataan itu yang saya fikirkan hanya semoga pak naka tidak kebanjiran dari Semarang sampai Jakarta. Jakarta macet ya pak? Pak naka pakai busway dong. Jika memang Pak Naka pakai busway semoga buswaynya tidak terbakar dan tidak terlalu lama menunggunya. Berapa banyak gambar yang sudah ditangkap mata lensa? Atau mungkin berapa buku yang dibeli Pak Naka disana, tentu ini yang paling cocok ditanyakan. Kembali lagi saya tunggu cerita di kelas dari take off hingga landing dan seterusnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beranjak dari properti dan tema

Demontrasi Tanpa Rusuh

Sejarah Bahasa Indonesia