UPGRIS Bersastra Lagi

UPGRIS Bersastra Lagi Oleh: Yosy Esta Pratika UPGRIS Bersastra ikut berperan mengisi serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati bulan bahasa. UPGRIS bersastra mengusung tema “ 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1 pengarang”. Rabu (19/10) Balairung Universitas PGRI Semarang kembali dipenuhi oleh ribuan mahasiswa dan dosen entah karena diwajibkan atau memang niat dari hati untuk menyaksikan penyair kelahiran Salatiga, 15 September 1964. Acara kali ini dibuka oleh Rektor dengan lagu yang diciptakan sendiri oleh Bapak Muhdi, ada beberapa fakta tentang Rektor UPGRIS ini yang tidak banyak orang mengetahuinya beliau merupakan penggerak aktif seni kala muda. Beliau pernah menjadi sutradara dalam pementasan drama dimasyarakatnya waktu itu. Bapak Muhdi juga tidak mau absen dalam dan menjadi 1 dari 3 yang membaca puisi karya Triyanto Triwikromo. Mengisi urutan setelah Bapak Muhdi ada dua wanita cantik yang memegang peran penting di UPGRIS, Dekan FPBS Ibu Dra. Asropah, M. Pd. dan Wakil Rektor I Ibu Sri Suciati, M. Hum. Mereka sudah tidak asing lagi dengan dunia sastra karena studi mereka memang untuk mendalami hal itu. Penikmat di dalam Balairung sempat tercengang melihat Bu Suci didampingi salah seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris menembang langgam Jawa. Tembang Jawa yang terlantun oleh kedua wanita cantik itu membuat takjup penulis Triyanto Triwikromo. Ada salah satu karya beliau yag direspon apik oleh beberapa seniman. Anak-anak Mengasah Pisau mendapat apresiasi baik dari seorang pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya tritama, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertunjukan teater, dan sutradarawan Dedi Setiadi menjadi sinetron (scenario ditulis Triyanto Triwikromo). Itu baru satu buku Beliau masih banyak prestasi yang beliau dapat selain itu, tentu tidak akan saya ungkap semua disini. Keberhasilan beliau bermula dari ketertarikan beliau menulis, beliau beranggapan bahwa tulisan dikatakan bagus jika berhasil dimuat dalam media, kala itu Kompas. Penuturan tentang sosok Triyanto diutarakan oleh kakak tingkat saat duduk dibangku Universitas Negeri Semarang Bapak Prasetyo Utomo. Pak Pras dosen dan mahasiswa akrap menyapanya menuturkan “Triyanto setiap malam membawa berbagai karya sastra tulisannya minta dikoreksi satu persatu supaya dapat menembus suara merdeka, bahkan hingga berserakan di ruang tamu”. Kala itu Triyanto sangat terinspirasi dengan Pak Pras yang tulisannya sudah dimuat di harian kompas. Pada akhirnya buku yang ia tulis kembali dibedah oleh Pak Pras, serasa mengulang kejadian beberapa tahun silam. Pak Pras menjadi pembicara kedua setelah Dr. Nur Hidayat dosen Pascasarjana UPGRIS yang sangat mengikuti perkembangan karya-karya Triyanto. Pak Nur mengkaji beberapa karya Triyanto yang ada dalam deretan buku yang dibedah pada siang itu. Pemiihan kata atau diksi dalam berbagai karya sastranya yang tidak lumrah menjadi semkain tinggi kelas karyanya. Triyanto mulai menuangkan ide dan gagasan bukan semata muncul itu semua karena dia telah menerap isi dari berbagai buku. Sebelum melanjutkan apa yang disampaikan oleh para kritikus selanjutnya didalam acara tersebut juga ada band akustik jebolan UPGRIS yang hitz dengan nama Biscuittime. Deska, Yongki, dan Icha turut mengapresiasi karya pak Tri. Salah satu judul lagunya yang mengambil dari berbagai lirik dalam puisi Pak Tri yaitu moksa.” Lihatlah dia telah menunggumu disana, buka pintu rumahnya, masuk dan ceritakanlah padanya segala” lantunan dari Icha sang vokalis. Menjadi penyair tidaklah mudah apalagi yang senantiasa konsisten pada karyanya berikut yang terucap dari moderator kita kali ini Dr. Harjito, M. Hum. Ketua program studi Pendikan Bahasa dan Sastra Indonesia pascasarjana UPGRIS. Beliau mengatur jalannya pembedahan buku dari awal hingga akhir. Widyanuri Eko sastrawan muda, penganting baru, dan staf humas PGRI Semarang menjadi pembicara termuda kali ini. Beliau tidak hanya mengkritisi karya Pak Tri, beliau memberikan koleksi bukunya kepada mahasiswa yang dapat menjawab pertanyaannya. Sedikit tentang pembicaraan beliau tentang bagaimana buku-buku Pak Tri yang berasal dari serapan sastra terjemahan 4 buku asing. Itu artinya sebuah buku yang berkualitas dilahirkan tidak hanya dari pemikiran saja melainkan dari buku lain sebagai acuannya. Semakin tersirat makna yang terkandung dalam setiap karya semakin misterius dan berseni tinggi. Terselenggaranya acara ini bukan berpusat pada pengarang dan kritikus saja ada peran mahasiswa dan pelatih tari kreasi yang ikut menyuguhkan karya garapannya. Enam orang mahasiswa menjadi salah satu kolaborasi nan selaras dengan gerakan dan isi puisi Pak Tri. Kerja keras dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni menyambut bulan bahasa sudah tidak perlu diragukan lagi. Dukungan dari pihak rektorat menambah penggarapan apik ini. Oktober menjadi api penyala obor semangat untuk terus berkreasi, sebenarnya tidak hanya Oktober saya bulan yang lainya juga harus punya rasa yang sama. Menjadi leader dari universitas lain merupakan hal yang membanggakan. Teruslah berkarya melalui sastra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beranjak dari properti dan tema

Demontrasi Tanpa Rusuh

Sejarah Bahasa Indonesia